Definisi menurut USOE (United States Office of Education), anak berbakat adalah anak-anak yang dapat membuktikan kemampuan berprestasinya yang tinggi dalam bidang-bidang seperti intelektual, kreatif, artistik, kapasitas kepemimpinan atau akademik spesifik, dan mereka yang membutuhkan pelayanan atau aktivitas yang tidak sama dengan yang disediakan di sekolah sehubungan dengan penemuan kemampuan-kemampuannya (Hawadi, 2002).

Renzulli, dkk (dalam Munandar, 1992) dari hasil-hasil penelitiannya menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang pada hakikatnya tiga kelompok ciri-ciri sebagai berikut :

1) Kemampuan di atas rata-rata

2) Kreativitas

3) Pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas (task commitment)

Keberbakatan merupakan interaksi antara kemampuan umum dan atau spesifik, tingkat tanggung jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat kreativitas yang tinggi (Renzulli dalam Hawadi, 2002). Renzulli melihat bahwa orang yang berprestasi adalah orang yang mampu memberikan sumbangan kreatif dan prestasi yang sama baiknya dalam tiga kluster yang saling terkait. Renzulli menegaskan tidak satupun kluster yang membuat keberbakatan selain adanya interaksi antara tiga kluster tersebut yang didalam studi-studi terdahulu menjadi resep yang dilakukan untuk tercapainya prestasi kreatif-produktif (Renzulli dalam Hawadi, 2002).

Sedangkan menurut Depdiknas (2003) anak berbakat adalah mereka yang oleh psikolog dan/atau guru diindentifikasi sebagai peserta didik yang telah mencapai prestasi memuaskan, dan memiliki kemampuan intelektual umum yang berfungsi pada taraf cerdas, kreativitas yang memadai, dan keterikatan terhadap tugas yang tergolong baik.

Para ahli menyampaikan batasan yang berbeda mengenai skor inteligensi. Vernon (dalam Munandar, 1982) mengemukakan bahwa IQ 130 ke atas lebih disarankan untuk menggolongkan siswa sebagai anak berbakat. Angka ini disarankan karena kemungkinan siswa-siswa tersebut berasal dari sekolah yang sangat bervariasi. Sedangkan Terman (dalam Hawadi, 2002) berdasarkan hasil penelitian longitudinalnya, menyatakan bahwa skor 130 ke atas sebagai keberbakatan dan skor ke atas 150 sebagai genius. Feldman (dalam Hawadi, 2002) juga mengemukakan hal yang sama bahwa skor 130 ke atas sebagai keberbakatan.

Dari berbagai definisi di atas, dapat dilihat bahwa anak berbakat adalah mereka yang memiliki potensi sebagai berikut:

1) Kemampuan atau kecerdasan yang tinggi (sangat superior)

2) Kreativitas yang memadai, yaitu mampu menemukan, menciptakan hal baru yang bermanfaat, mampu menerapkan, dan mampu memecahkan masalah

3) Mampu melaksanakan atau menyelesaikan tugas serta memiliki motivasi tinggi dan kemampuan melihat rencana lewat berbagai kesimpulan yang ia buat

Ketiga ciri-ciri tersebut secara bersamaan (satu kesatuan) menentukan keberbakatan. Memiliki salah satu ciri, misalnya inteligensi tinggi, belumlah mencerminkan keberbakatan.

b. Klasfikasi Keberbakatan

Pengukuran IQ bisa diperoleh melalui tes inteligensi Wechsler ataupun Stanford-Binet. Baik skala Wechsler maupun Stanford-Binet mempunyai batas IQ nya sendiri dalam pengklasifikasian keberbakatan, sebagai berikut:

Jenis Keberbakatan Skala Wechsler Skala Stanford-Binet

Midly gifted 115 – 129 116 – 131

Moderately gifted 130 – 144 132 – 147

Highly gifted Diatas 145 Diatas 148

c. Masalah Anak Berbakat

Anak berbakat dengan ciri-ciri khasnya dapat menyebabkan mereka mengalami masalah baik dengan dirinya maupun dengan dunia luar (Munandar, 1999). Ciri-ciri mereka yang selalu mempertanyakan, bersikap kritis, bosan dengan tugas rutin serta kemampuan untuk dapat melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda seringkali menjadi sumber permasalahan dengan orang dewasa atau teman sebaya. Masalah juga dapat timbul karena tidak didukung oleh lingkungan rumah atau sekolah. Lingkungan yang membatasi tersebut (Davis & Rimm dalam Munandar, 1999) adalah lingkungan yang otoriter atau sebaliknya yaitu permisif.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membina anak-anak berbakat sehubungan dengan dukungan lingkungan yang mereka perlukan (Munandar, 1999):

1). Fleksibilitas dalam kesempatan

2). Contoh yang positif

3). Bimbingan dan dukungan

4). Rasa humor

5). Empati

by episentrum

Tulisan terkait tentang Pertumbuhan dan perkembangan Psikologi




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: